Klik Sponsor di Bawah

Senin, 07 Februari 2011

Ada Kepentingan AS di Reformasi Mesir

Headline
Pemerintah Amerika Serikat berharap transisi demokrasi di Mesir bisa berjalan baik. Namun AS tampaknya tak ingin Islam radikal Ikhwanul Muslimin Mesir (IMM) berkuasa. IMM dan AS/Barat tarik-ulur dalam kontestasi revolusioner di Mesir.
"Yang tidak kami inginkan adalah ideologi radikal mengambil alih negara yang sangat besar dan penting di wilayah Timur Tengah ini," kata Hillary Clinton, Menlu AS. Pernyataan Hillary ini isyarat dari AS bahwa Gedung Putih tak mau IMM atau islam radikal lainnya berkuasa di Kario menggantikan Hosni Mubarak.
AS menekankan, harus ada komitmen siapa pun yang duduk di pemerintahan melakukan dialog dengan rakyat Mesir. Tujuannya mengambil tindakan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat Mesir agar lebih mengedepankan partisipasi publik, menjunjung hak asasi manusia, menegakkan hak asasi setiap orang dan reformasi ekonomi
Sebelumnya, tokoh oposisi Mesir yang dijagokan IMM, Mohamed ElBaradei mengkritik sikap AS, yang disebutnya telah kehilangan kredibilitasnya dari hari ke hari. Ia menilai AS di satu sisi menyerukan demokrasi di Mesir, tetapi masih mendukung pemimpin yang diktator macam Hosni Mubarak.
Dalam kaitan ini, Ketua Ikhwanul Muslimin Mesir (IMM), Muhammad Mahdi Aakif menyerukan warga Muslim Mesir berjihad untuk melawan kebiadaban Israel. Seruan jihad IMM itu mengkhawatirkan dan mencemaskan AS/Barat. IMM menyerukan bahwa berperang melawan musuh-musuh Islam adalah kewajiban kaum Muslimin.
“Rasulullah SWT mengatakan, umat Islam itu ibarat satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit, bagian tubuh yang lain harus membantu mengobatinya. Begitu pula kewajikan umat Islam hari ini. Kita harus pergi berjihad ke Palestina seperti pemimpin kita Salahuddin beberapa abad yang lalu," seru Aakif dalam orasinya di tengah-tengah aksi unjuk rasa di Mesir.
Selain menyerukan jihad, Ikhwanul Muslimin juga mengajukan 10 desakan pada pemerintah Mesir, antara lain meminta menghentikan eskpor gas ke Israel, membuka perbatasan Rafah, mengusir duta besar Israel dan pemutusan hubungan diplomatik dengan Zionis Israel.
IMM mendorong ribuan warga Mesir menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Sindikasi Jurnalis di kota Kairo. Di antara para pengunjuk rasa juga terlihat sejumlah ekspatriat yang ikut mengecam Israel dan membawa spanduk-spanduk pernyataan bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang.
AS/Barat khawatir jika IMM berkuasa di Kairo, bakal terjadi gejolak yang mengancam stabilitas di wilayah Timur Tengah. Presiden Barack Obama menilai Mesir merupakan negara yang penting di kawasan itu.
Kelompok oposisi di Mesir telah menunjuk Mohamed ElBaradei untuk melakukan negosiasi dengan pemerintah Hosni Mubarak. Mandat tersebut juga diberikan Ikhwanul Muslimin, salah satu oposisi terbesar di negara tersebut.
"Kelompok-kelompok politik mendukung ElBaradei untuk bernegosiasi dengan rezim yang berkuasa," ujar Essam el-Eryan, seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin, kemarin. [mdr]
(inilah.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar